Minggu, 10 Mei 2009

RPP SD

Proses pembelajaran harus variatif agar siswa senang, sehingga menghasilkan output yang baik, salah satunya adalah pakem.
PAKEM adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah 1) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat; 2) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa; 3) Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’; 4) Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok; 5) Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Persiapan juga harus selalu dilakukan guru sebelum mengajar, seperti RPP dan media lain guna keberhasilan proses pembelajaran. Contoh RPP: klik
disini

DATA NISN SDN 1 GENDOH



Nomor ini merupakan ID siswa , dan merupakan syarat bagi seluruh siswa entah negeri maupun swasta.Untuk memudahkan para stakeholders melihat detail NISN para murid. Jadi klik download

Minggu, 29 Maret 2009

Communicative Pluralism



Since the era of the Dutch Colonial, the difference seems to be the source of legitimacy to discriminate. Colonial government established stratification into four groups, namely: the Netherlands, other European countries, China and India, indigenous-related citizen-Dutch Indies. The sequence designation in the levels of treatment reflects the right obtained by each individual who comes from a body. Context this is a practice of discrimination start to grow and develop in this Republic.

In fact, without the contrived, the community is already in the natural disposition which God revealed to mankind. human society is intentionally formed with the many differences in it. Without the need of classification based on skin color, sejatinya each human has a different skin color. So also with the identity created through a process of interaction and inkulturasi language, race, religion and so forth. The difference is the natural inclination is for people.

Historical development of the community version of Marx has given us to do a bit of contemplation. filled by people mbanyak the contradictions in the process of development. Conflict between the strong and the weak is the history of the development community that we can read in the Communist Manifesto written by Marx. Appear once, if we draw a line with the process of creation berkembangannya the top of the class' authorities and the capital owners' disposition ilahiah be made in the community as a key win with perseturuan classes (the poor). This is intended to continue working to hold the top of the legitimacy of the power class up to the classes.

Translation of this concept, we can find in the history of classification of the Indonesian people by the Dutch colonial government as has been described above. Can also see the processes running on the political apartheid in South Africa state that the birth of anti-discrimination fighter Nelson Mandela. Currently, the process of discrimination is still just visible in the Earth Pertiwi. But, of course, the process does not seradikal in the era of Dutch colonial government. This, we can find on various cases that befall women.
Acts melancholy always accompany the women to gain equality in Indonesia. Kartini in this era, women still difficult to be educated and high school. Today is also when many women who berkegiatan in the public space, the process is still discrimination also appear. Habituate only when the process of political moments such as elections and elections held. So many ditebarkan the understanding that women not eligible to become a leader. (continued)